/1/
Pertemuan dini hari dibatas kota itu tak menghasilkan apa-apa sedikit salak anjing untuk senyap. Tak terdengar nyanyi, “Kita ternyata terlalu angkuh untuk tidak setia, terlalu gagap untuk sekedar mengingat babak pertama itu”
/2/
Sutradara memang tidak peduli pada coretan-coretan di naskah yang kita hafal, kata-kata yang dihilangkan, tanda seru yang dibisukan dan ‘mu’ yang juga tidak ditulis dengan huruf kapital. Pada suatu subuh yang tanpa sutradara ternyata kita pun tetap gagap untuk ingat pukul berapa harus berangkat. Kau malah mendongeng tentang seekor angsa yang tak lagi menyanyi- dan berkata, “ Kenapa ini tertulis justru di adegan pertama dihalaman pertama ketika tak ada cerita yang sudah selesai direka?”
Siang hari kita bertemu sutradara itu; sedang dicoretnya beberapa dialog dikitab yang sudah kita hafal diluar kepala. Kau menatapku, “Kenapa kita seperti tak dikenalnya?”
/3/
Ada, memang, angsa menyanyi-asal kita berniat menghafal dialog kata demi kata lagi
-Sapardi Djoko Damono-



0 komentar:
Posting Komentar